www.NaizalNorewan.com

Saddia Naizal Norewan Publications

Panas Bumi Kerinci Akan Dijadikan Energi Listrik, Jambi Ekspres, Wednesday, 11 March 2009 04:48

kerinci

 SUNGAIPENUH – Sumber daya alam Kerinci berupa panas bumi atau lebih dikenal dengan istilah geothermal kembali dilirik oleh investor. Kali ini yang akan mengembangkan energi geothermal Kerinci adalah PT Pertamina. Dengan bendera atau anak perusahaan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), berencana akan mengekplorasi energi panas bumi itu untuk dijadikan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik. Adapun daerah yang berpotensi menghasilkan energi panas bumi yang cukup besar di Kerinci yakni di Desa Talang Kemuning, Kecamatan Gunung Raya. Untuk merealisasikan hal ini Pertamina sudah melakukan survey, dan pengerjaannya direncanakan akan dimulai 2010 mendatang. Eben Ezer Sihaan, selaku pimpinan Proyek PT Pertamina Geothermal Energy Kerinci kepada koran ini mengakui bahwa pihaknya telah melakukan survey ke lokasi di Talang Kemuning. Ia mengakui hasil survey di Talang Kemuning memang memiliki potensi untuk dikembangkan listrik dari panas bumi. “Kita sudah lakukan survey ke lokasi dan termasuk mengumpulkan hasil survey yang lama, memang di Talang Kemuning sangat berpotensi sekali mengembangkan energi goethermal sebagai pembangkit listrik,” kata Eben, didampingi Kadis Kehutanan Kerinci Erwan. Untuk melakukan pekerjaannya itu kata Eben, pihaknya dalam hal ini PGE juga sudah melakukan sosialisasi di kantor Gubernur Jambi dan termasuk ke Pemkab Kerinci, terkait dengan rencana untuk mengekplorasi energi geothermal ini. “Sosialisasi sudah kita lakukan mulai dari pemberitahuan atau sosialisasi ke Gubernur dan Pemkab Kerinci,”urainya. Saat ini kata Eben lagi, pihaknya tengah berencana akan melakukan pengurusan izin lokasi, pembebasan lahan, pembangunan jalan atau infrastruktur ke lokasi eksplorasi dan pihaknya berharap hingga akhir tahun 2009 mendatang sudah masuk ke tahap pengeboran eskplorasi. “Ya, target kita akhir tahun ini masuk ke pengeboran eksplorasi,” cetusnya. Masih dari penuturan Eben Ezer Sihaan, dari pengamatan yang dilakukan oleh PT PGE itu di Talang Kemuning memiliki potensi geothermal yang cukup besar dan mencapai 200 mega watt. Hanya saja yang menjadi kendala sebutnya, dimana 130 mega watt potensi itu berada didalam kawasan TNKS dan selebihnya berada di luar kawasan. Khusus untuk PT PGE ini katanya, akan berupaya untuk membangkitkan sekitar 1 x 55 mega watt dan sesuai dengan arahan dari Bupati Kerinci, maka pihaknya akan berpacu dengan PLTA dalam membangkitkan energi listrik di Kerinci. “Didalam membangkitkan energi listrik ini kita akan berpacu dengan PLTA dan Pemkab Kerinci sendiri juga sudah mempersilakan kepada kita dan PLTA untuk berpacu untuk menerangi Kerinci ini sehingga Kerinci kedepan bukan hanya menjadi lumbung beras saja tapi juga akan menjadi lumbung energi listrik dan ini akan kita masukkan ke jaringan interkoneksi,” cetusnya. Disisi lain Bupati Kerinci H Murasman, mengakui akan berupaya untuk mempertemukan antara TNKS dengan PT PGE agar eksplorasi geothermal ini bisa dilakukan sempurna dengan masuk ke dalam wilayah TNKS. Karena kata Bupati, selama ini TNKS terkesan kurang memperhatikan masyarakat. Terbukti tidak adanya konpensasi atas penyelamatan hutan dan kawasan yang dilakukan. “Bila perlu kita siap menukar gulingkan lahan yang ada, misalnya kita akan mengambil 5 hektar di TNKS maka Pemkab siap akan menghijaukan sekitar 20 hektar dan ini kita lakukan demi untuk kepentingan masyarakat termasuk untuk geothermal ini disaat masyarakat membutuhkan penerangan listrik,” jelas Bupati. (wdo)

March 11, 2009 Posted by naizalnorewan | Petikan website | | 2 Comments

Photo Keluarga Besar H. A. Norewan, BA dari 5 Provinsi disaat Pernikahan Prima Yulianti, SE & Chandra Harmel, STP di Padang Sumatra Barat, Oktober 2007

rotation-of-image-101

March 3, 2009 Posted by naizalnorewan | Uncategorized | | No Comments Yet

Ucapan Selamat Dari H. A. Norewan, BA. Penasehat Lembaga Kerapatan Adat Alam Kerinci/Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Kerinci Atas Pelantikan Pasangan MURASMAN-RAHMAN Menjadi Bupati-Wakil Bupati Kerinci 2009-2013

 

(Sumber Photo : http://jonmisteri-kerinci.blogspot.com/

pict00951

“SELAMAT ATAS PELANTIKAN’  yang telah dilaksanakan, Rahmat dan Ridho ALLAH, Semoga Sukses untuk membangun Kerinci dan Kesejahteraan Masyarakat

Dari Kami,

H. A. NOREWAN, BA SEKELUARGA

Amin.

document371

December 15, 2008 Posted by naizalnorewan | AN email | | 2 Comments

Mengenal dan Mempelajari Tulisan Kuno Kerinci Bersama Dpt H. A. Norewan,BA Penasehat Lembaga Kerapatan Adat Alam Kerinci (LKAAK), Sekarang Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Kerinci

document120

November 17, 2008 Posted by naizalnorewan | Petikan website | | No Comments Yet

My Big Family in Indonesia ; Dreams from My Family

October 24, 2008 Posted by naizalnorewan | Photo Keluarga, Potret Keluarga | | 1 Comment

My Father Depati H. A. Norewan, BA & My Mother Hj. Darmani Norewan Wear The Traditional Costume of Kerinci Regency, Indonesia

October 24, 2008 Posted by naizalnorewan | Petikan website, Potret Keluarga | | No Comments Yet

Kenangan Bersama Bapak Bupati Kerinci H. Fauzi Siin, Bapak Ketua DPRD Kerinci dan 2 Wartawan Int Harian The Australian Australia 2005

document392

October 24, 2008 Posted by naizalnorewan | Uncategorized | | 1 Comment

Barack Obama

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Barack Obama
Barack Obama

Incumbent
Assumed office 
January 4, 2005
Serving with Richard Durbin
Preceded by Peter Fitzgerald

Member of the Illinois Senate
from the 13th district
In office
January 8, 1997 – November 4, 2004
Preceded by Alice J. Palmer
Succeeded by Kwame Raoul

Born August 4, 1961 (1961-08-04) (age 47)
Honolulu, Hawaii, U.S.A.
Nationality American
Political party Democratic
Spouse Michelle Obama (m. 1992)
Children Malia Ann (b. 1998),
Natasha (”Sasha”) (b. 2001)
Residence (Kenwood), Chicago, Illinois
Alma mater Harvard Law School
Columbia University
Occidental College
Profession Attorney, Politician
Religion Christian (United Church of Christ)
Signature Barack Obama's signature
Website Barack Obama—U.S. Senator for Illinois
More detailed articles about Barack Obama
————————————
Early life and career · (Family · Memoir)
Illinois Senate career
U.S. Senate career
Presidential primaries · Obama–Biden 2008
Policy positions · Public image

Barack Hussein Obama II (pronounced /bəˈrɑːk hʊˈseɪn oʊˈbɑːmə/; born August 4, 1961) is the junior United States Senator from Illinois and presidential nominee of the Democratic Party in the 2008 United States presidential election.

Obama is the first African American to be nominated by a major political party for president.[1] A graduate of Columbia University and Harvard Law School, where he served as president of the Harvard Law Review, Obama worked as a community organizer and practiced as a civil rights attorney before serving three terms in the Illinois Senate from 1997 to 2004. He taught constitutional law at the University of Chicago Law School from 1992 to 2004. Following an unsuccessful bid for a seat in the U.S. House of Representatives in 2000, he announced his campaign for the U.S. Senate in January 2003. After a primary victory in March 2004, Obama delivered the keynote address at the Democratic National Convention in July 2004. He was elected to the Senate in November 2004 with 70 percent of the vote.

As a member of the Democratic minority in the 109th Congress, he helped create legislation to control conventional weapons and to promote greater public accountability in the use of federal funds. He also made official trips to Eastern Europe, the Middle East, and Africa. During the 110th Congress, he helped create legislation regarding lobbying and electoral fraud, climate change, nuclear terrorism, and care for returned U.S. military personnel. Obama announced his presidential campaign in February 2007, and was formally nominated at the 2008 Democratic National Convention with Delaware senator Joe Biden as his running mate.

Early life and career

Barack Obama was born on August 4, 1961, in Honolulu, Hawaii, to Barack Obama, Sr., a black Kenyan of Nyang’oma Kogelo, Siaya District, Kenya, and Ann Dunham, a white American from Wichita, Kansas.[2] His parents met while attending the University of Hawaii at Manoa, where his father was a foreign student.[3] They separated when he was two years old and later divorced.[4] Obama’s father returned to Kenya and saw his son only once more before dying in an automobile accident in 1982.[5] After her divorce, Dunham married Lolo Soetoro, and the family moved to Soetoro’s home country of Indonesia in 1967, where Obama attended local schools in Jakarta until he was ten years old. He then returned to Honolulu to live with his maternal grandparents while attending Punahou School from the fifth grade in 1971 until his graduation from high school in 1979.[6] Obama’s mother returned to Hawaii in 1972 for several years and then back to Indonesia to complete fieldwork for her doctoral dissertation. She died of ovarian cancer in 1995.[7] As an adult Obama admitted that during high school he used marijuana, cocaine, and alcohol, which he described at the 2008 Civil Forum on the Presidency as his greatest moral failure.[8][9]

Following high school, Obama moved to Los Angeles, where he studied at Occidental College for two years.[10] He then transferred to Columbia University in New York City, where he majored in political science with a specialization in international relations.[11] Obama graduated with a B.A. from Columbia in 1983, then worked for a year at the Business International Corporation[12] and then at the New York Public Interest Research Group.[13][14]

After four years in New York City, Obama moved to Chicago, where he was hired as director of Developing Communities Project (DCP), a church-based community organization originally comprising eight Catholic parishes in Greater Roseland (Roseland, West Pullman, and Riverdale) on Chicago’s far South Side, and worked there for three years from June 1985 to May 1988.[13][15] During his three years as the DCP’s director, its staff grew from one to thirteen and its annual budget grew from $70,000 to $400,000, with accomplishments including helping set up a job training program, a college preparatory tutoring program, and a tenants’ rights organization in Altgeld Gardens.[16] Obama also worked as a consultant and instructor for the Gamaliel Foundation, a community organizing institute.[17] In mid-1988, he traveled for the first time to Europe for three weeks and then for five weeks in Kenya, where he met many of his Kenyan relatives for the first time.[18]

Obama entered Harvard Law School in late 1988. At the end of his first year, he was selected, based on his grades and a writing competition, as an editor of the Harvard Law Review.[19] In February 1990, in his second year, he was elected president of the Law Review, a full-time volunteer position functioning as editor-in-chief and supervising the Law Review’s staff of eighty editors.[20] Obama’s election as the first black president of the Law Review was widely reported and followed by several long, detailed profiles.[20] During his summers, he returned to Chicago where he worked as a summer associate at the law firms of Sidley & Austin in 1989 and Hopkins & Sutter in 1990.[21] After graduating with a Juris Doctor (J.D.) magna cum laude from Harvard in 1991, he returned to Chicago.[19]

The publicity from his election as the first black president of the Harvard Law Review led to a publishing contract and advance for a book about race relations.[22] In an effort to recruit him to their faculty, the University of Chicago Law School provided Obama with a fellowship and an office to work on his book.[22] He originally planned to finish the book in one year, but it took much longer as the book evolved into a personal memoir. In order to work without interruptions, Obama and his wife, Michelle, traveled to Bali where he wrote for several months. The manuscript was finally published in mid-1995 as Dreams from My Father.[22]

Barack Obama and Maya Soetoro with their mother Ann Dunham and grandfather Stanley Dunham in Hawaii (early 1970s).

Right-to-left: Barack Obama and Maya Soetoro with their mother Ann Dunham and grandfather Stanley Dunham in Hawaii (early 1970s).

October 23, 2008 Posted by naizalnorewan | Tokoh Dunia | | No Comments Yet

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Hamka

Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya), lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981, adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.

Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

 Biografi
Hamka

Hamka

HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.

Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Daftar Karya Buya Hamka

  1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
  2. Si Sabariah. (1928)
  3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
  4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
  5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
  6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
  7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
  8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
  9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
  10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
  11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
  12. Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
  13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
  14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
  17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
  18. Tuan Direktur 1939.
  19. Dijemput mamaknya,1939.
  20. Keadilan Ilahy 1939.
  21. Tashawwuf Modern 1939.
  22. Falsafah Hidup 1939.
  23. Lembaga Hidup 1940.
  24. Lembaga Budi 1940.
  25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepun 1943).
  26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
  27. Negara Islam (1946).
  28. Islam dan Demokrasi,1946.
  29. Revolusi Pikiran,1946.
  30. Revolusi Agama,1946.
  31. Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
  32. Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
  33. Didalam Lembah cita-cita,1946.
  34. Sesudah naskah Renville,1947.
  35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
  36. Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
  37. Ayahku,1950 di Jakarta.
  38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
  39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
  40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
  41. Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
  42. Kenangan-kenangan hidup 2.
  43. Kenangan-kenangan hidup 3.
  44. Kenangan-kenangan hidup 4.
  45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
  46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
  50. Pribadi,1950.
  51. Agama dan perempuan,1939.
  52. Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
  53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
  54. Pelajaran Agama Islam,1956.
  55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
  56. Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
  57. Empat bulan di Amerika Jilid 2.
  58. Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
  59. Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
  60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
  61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
  63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
  64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
  65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
  66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
  67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
  68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
  69. Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
  70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
  71. Himpunan Khutbah-khutbah.
  72. Urat Tunggang Pancasila.
  73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
  74. Sejarah Islam di Sumatera.
  75. Bohong di Dunia.
  76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
  77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
  78. Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.
  79. [Tafsir Al-Azhar][1] Juzu’ 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.

Aktivitas lainnya

Rujukan

  • Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka, terbitan Yayasan Nurul Islam, cetakan kedua 1979.

Dipetik dari : id.wikipedia.org

October 22, 2008 Posted by naizalnorewan | Petikan website, Tokoh Indonesia | | No Comments Yet

Fadel Muhammad

Ir. H. Fadel Muhammad Al-Haddar (lahir di Ternate pada 20 Mei 1952) adalah Gubernur Provinsi Gorontalo sejak 10 Desember 2001. Pada pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia untuk pemilihan gubernur.

Pada 17 Januari 2007 atau sehari setelah pencanangan Gerakan Peningkatan Produksi Padi Nasional 2 Juta Ton, Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma’ruf melantiknya bersama pasangan wakil gubernur untuk periode kedua. Proses pelantikan berlangsung secara nasional dari Gedung DPRD, Botu (Gorontalo) melalui siaran TVRI.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 73/P/2006 yang berlaku mulai 28 Desember 2006, Mendagri mensahkannya menjadi Gubernur untuk masa kerja 2006-2011. Bersama wakil gubernur Ir. Hi Gusnar Ismail MM, ia sukses memimpin Gorontalo sejak 2001-2006.

Fadel sebelumnya adalah seorang pengusaha dan politikus Indonesia. Ia juga Ketua DPD I Golkar di Gorontalo. Setelah bercerai dengan istri pertamanya, ia menikah dengan Hasanah binti Thahir Shahab.

Fadel meraih gelar insinyur dari Jurusan Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1978. Saat sedang menempuh pendidikan di ITB, ia pernah mendapatkan tawaran beasiswa untuk belajar di Institut Teknologi California, namun tawaran tersebut ditolaknya. Ia pernah bergabung dengan Menwa ITB. Ia adalah salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan mantan pemimpin Grup Bukaka yang juga didirikannya. Selain itu, ia pernah menjadi salah seorang pemegang saham Bank Intan yang kemudian dilikuidasi. Saat ini Fadel juga adalah Ketua Umum Pengurus Dewan Jagung Nasional.

Fadel pernah mengalami perkara kepailitan melawan Bank IFI, ING Barings South East Asia Limited di Singapura, serta Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Ia dinyatakan berutang Rp. 40 miliar kepada Bank IFI, sebesar US$ 4,8 juta kepada ING Barings, dan sebesar Rp 93,2 miliar kepada BPPN. Dalam putusan Pengadilan Niaga Jakarta pada 13 Maret 2001, ia dinyatakan pailit, namun secara mengejutkan dibebaskan dalam tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung pada 18 Oktober 2004.

Dipetik dari : id.wikipedia.org

October 22, 2008 Posted by naizalnorewan | Petikan website, Tokoh Indonesia | | No Comments Yet